Rabu, 04 November 2015

perbandingan biaya terbang pesawat tempur


Biaya Terbang  dan Radar 


Berbicara tentang pesawat tempur tentu  pikiran kita terbayang beberapa  negara dengan kekuatan militer di udara yang sangat kuat dan hebat.   amerika serikat, rusia,jerman,inggris,perancis  merupakan negara negara pilar yang telah mampu mandiri membuat pesawat tempur dari A sampai Z dengan  kata lain  bukan jhanya sekedar merakit namun mampu membuat sendiri secara utuh sebuah pesawat termasuk  mesin nya itu sendiri.

jika sudah menyebut tenatng mesin pesawat maka kembali terbayang ada  istilah single dan dobel  engine pada suatu pesawat tempur yang menentukan bobot dan kualitas dari pesawat tempur itu sendiri.

Ferari, BMW, Mercy tentu saja tidak sebanding  dengan proton,sujuki,honda,hyundai, beda kelas beda harga maka  beda kualitas.biaya servisnya  dan perawatan tentu nya jauh lebih mahal yang akan di keluarkan.
jadi jika di lihat dari perumpamaan diatas maka jelas sekali perbedaan antara pesawat  kelas berat dan pesawat kelas ringan.

F22 Raptor, F35 Lighting, Sukhoi SU-35,PAK FA, tidak dapat di bandingkan dengan F16  Fighting Falcon,Gripen,karena jelas  beda kelas dan beda kualitas.

Presiden & CEO SAAB Asia Pasific, dan Enstedt sempat mempresentasikan singkat mengenai           spesifikasi Gripen kepada Menhan Ryamizard Ryacudu di booth SAAB dalam acara Indo Defence       2014  dia pun memberi keterangan pers kepada para wartawan dalam kesempatan yang sama.

"Biaya operasional Gripen per jam   $ 4700 USD. Memang mahal tapi jauh lebih murah dibanding pesawat-pesawat lain. F-16 USA  biaya per jam nya   $ 7.700 USD,      F-35/A  $ 21.000, Sukhoi  $ 7.000 USD.  dari hal diatas maka SALAH BESAR  jika membandingkan antara sukhoi dan gripen  karena dari mesin nya saja sudah berbeda.

dari berita IHS Jane terdapat analisa yang serupa tentang biaya operasional pesawat tempur per jam
untuk jenis F-16   $7.700. USD  per jam unit, lalu  untuk pesawat    F-35 LIGHTING   biayanya    $21.000 dollar-$31.000 dolar  USD ,untuk pesawat    F-22  Raptor biayanya   $  44.000 dollar.
untuk eurofighter/thypon biayanya  $ 8.200 USD.  Untuk pesawat tempur Rafaele  $ 16.500,untuk  jenis  F18 Series $ 11.000 USD.  untuk  Gripen  single engine  $4.700  jika   Gripen dobel engine maka menjadi  $9.400 USD biaya per jam.

dari  hal diatas muncul  istilah ATM terbang  untuk sukhoi  Family . namun jika melihat data dari berbagai sumber maka julukan "Bank Terbang"  cocok ditujukan untuk pesawat F-22 Raptor karena wajar  produksi  unit F-22 Raptor di stop di  angka 200  unit  dan dikurangi  dua unit yang jatuh atau mengalami kecelakaan.karena memang biaya  operasional  nya sudah sangat menguras kantong PENTAGON  dalam melaksanakan tugas tugasnya.


















UpGrade dan Refurbish

istilah refurbis/upgrade/ menjadi andalan beberapa pabrikan pesawat tempur  untuk menjual "dagangan" teknologi pesawat kepada negara lain yang ingin mempunyai kekuatan pesawat tempur yang super atau kuat. indonesia dengan F-16 sedang melakukan proses tersebut agar sang Elang tidak ketinggalan jaman dari sisi teknologi. program BIMA SENA dan FALCON STAR istilah yang digunakan oleh TNI AU untuk melakukan refurbis/upgrade F-16 Fighting Falcon.

dari istilah umum kamus bahasa  indonesia, bahwa refurbis artinya "memperbaharui" meremajakan" dari kondisi yang sudah lama/tua  menjadi  muda atau kembali ke kondisi seperti baru. artinya tidak ada penambahan teknologi di dalamnya. 

sedangkan upgrade adalah menganti atau meningkatkan kemampuan dan teknologi  dari yang sudah ketinggalan jaman  menjadi modern sesuai  kondisi teknologi yang ada saat  ini.













Bagaimana dengan F-16 / TNI AU.


Faktanya, walau sudah diupgrade, sistem radar ke 24 jet F16 C/D blok 25/52  hibah tersebut, masih terbelakang dibandingkan dengan jet-jet tempur milik tetangga:
(1) F-16 C/D hibah (TNI AU) yang dibekali radar APG-68(v)9 dengan jangkauan 80 mil laut, walau memakai jenis radar yang sama, tapi karena desain blok 25 dan 52 berbeda ada beberapa sensor radar yang tidak terpasang.
(2) F-16 D+ Block 52 (Singapura) yang dibekali APG-68(v)9 dengan jangkauan 160 mil laut


Lebih  lagi, F16 TNI berdasarkan data yang ada saat  hibah belum dilengkapi teknologi IFF (Identification Friend or Foe). padahal pesawat tetangga di ASEAN telah memiliki interrogator sehingga apa yang tertampil di radar akan langsung terbaca sebagai lawan atau kawan.







bandingkan dengan sistem radar dan rudal pesawat sukhoi:  dengan gambar di bawah ini  di bandingkan dengan beberapa  pesawat  seri F milik NATO/Amerika serikat
terlihat keunggulan sukhoi sedikit lebih  unggul di banding pesawat pesaingnya.















pengunaan pesawat tempur kelas berat dan teknologi canggih akan membuat suatu negara di perhitungkan oleh negara lain baik untuk rujukan atau pun kemungkinan power balance.negara negara tersebut biasanya akan membandingkan kemampuan tempur pesawatnya dengan  negara tetanganya.baik tingkat bilateral atau pun regional  serta global secara umum.

semoga kedepannya  diharapkan negara Republik Indonesia  dapat menjadi salah satu produsen pesawat tempur di dunia dan menjadi kelompok negara negara dengan industri pesawat yang dapat bersaing di dunia.karena makin kuat suatu negara dapat dilihat dari tolak ukur kemampuan militer baik darat, laut dan udara yang dimiliki nya.





salam
sekian










1 komentar: