Selasa, 04 November 2014

lapan dan karet peredam panas

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng satuan kerja PT Riset Perkebunan Nusantara yaitu Pusat Penelitian Karet (Puslitkaret) dalam penggunaan karet Ethylene Propilene Diene Monomer (EPDM) sebagai material insulasi termal pada motor roket berbahan bakar padat.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kerja sama (MoU) baru-baru ini.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, semua roket membutuhkan peredam panas antara tempat pembakaran bahan bakar dengan tabung roket. Jika tanpa itu roket bisa meledak kalau panasnya tidak diredam.


"Kita menjalin kerja sama dengan PT RPN melalui Puslit karet untuk pengembangan bahan yang bisa dijadikan peredam," katanya di Jakarta, Senin (20/10).
Thomas menambahkan, Lapan sejauh ini sudah mengembangkan roket berdiameter 100 milimeter, 120, 320, dan yang akan datang lebih besar lagi 450, 550 milimeter.

Menurutnya untuk roket kecil seperti 100 dan 120 milimeter teknik yang saat ini digunakan sudah memadai. Namun, untuk roket yang lebih besar membutuhkan suhu pembakaran mencapai 3.000 derajat celcius perlu dibuat peredam panasnya. Kemudian dikembangkanlah material karet.

"Roket-roket Lapan berdiameter 100, 120 milimeter saat ini sudah mulai dipakai untuk keperluan sipil, uji roket sonda membawa muatan sensor penelitian atmosfer. Dalam konsorsium roket nasional sebagai roket pertahanan," ungkapnya.

Untuk roket yang lebih besar, tambahnya, roket sonda mempunyai kemampuan yang lebih tinggi. Kementerian Pertahanan menggunakannya untuk pertahanan. Tetapi Lapan terbatas hanya mengembangkan roket sipil. Nantinya, tujuan akhir dari roket sonda ini sebagai roket peluncur satelit.
 Dalam kerja sama tersebut terungkap bahwa karet ternyata merupakan bahan yang dapat digunakan dalam roket. Secara sederhana, insulasi termal adalah material atau proses atau metode yang berguna untuk mengurangi laju perpindahan panas. Wahana antariksa, termasuk roket, memiliki banyak kebutuhan insulasi. Untuk dapat meluncur sempurna, roket memerlukan suhu 3.000 derajat celcius.
 Pembakaran dengan suhu tinggi seperti itu dapat berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan material karet atau polimer yang mampu menghambat penjalaran panas pada saat pembakaran.
 Kerja sama ini nantinya meliputi bidang penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi bahan alam dan sintetik untuk kedirgantaraan serta pemanfaatan teknologi dirgantara untuk bidang perkebunan.


Kenangan roket indonesia masa lalu ( jas merah )
sejarah Roket dan Rudal di Indonesia dimulai sejak RI membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet . Era Sukarno kita membeli persenjataan banyak untuk mempersiapkan konftontrasi Dwikora maupun Trikora.
Industri roket bukan hal baru bagi Indonesia. Teknologi pembuatan roket di Indonesia sudah dirintis sejak tahun 1960-an. Indonesia bahkan termasuk negara kedua di Asia dan Afrika, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri.
Sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi.
ABRI (nama lama TNI) beserta ITB (Institut Teknologi Bandung) mencoba dan melakukan pengembangan lebih lanjut tapi karena keterbatasan dana dan politik, maka riset terasa lamban malah seperti terhenti. namun bangsa kita telah berhasil menciptakan prototye beberapa roket.
Sebenarnya masih banyak roket2 besar bikinan AURI dan ITB, diantaranya WIDYA, YOGA, dll, namun perkembangannya terhenti, setelah tahun 1965, AURI kena getahnya kasus G-30S.




Roket Kartika : roket pertama hasil alih teknologi pertama 
Roket Kartika 1 adalah roket pertama Indonesia hasil kerjasama AURI dan ITB pada tahun 1962 berdasarkan perintah Perdana Menteri Juanda. yang merupakan  hasil "pendidikan dan kursus kilat teknologi dari uni sovyet saat itu.bayangkan tahun 1960 an hanya  beberapa negara di dunia yang bisa bikin roket dengan keterbatasan teknologi saat itu.
dari hasil "belajar privat "itulah Indonesia akhirnya berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang bernama Kartika 1 dengan berat 220 Kg dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.
Setelah itu perkembangan roket dan rudal semakin semarak di Indonesia, bahkan Indonesia kembali meluncurkan roket Kartika 2 dengan berat 66,5 Kg dan berjarak tempuh 50 Km.
Namun sayang, setelah orde lama jatuh,diganti orde baru,perubahan poros politik terjadi,rusia di tingalkan dan beralih ke barat.untuk mencegah kemajuan roket indonesia saat itu muncullah "pembonsai an" terhadap kemajuan roket indonesia.riset dan penelitian di hentikan atas desakan  amerikaserikat dan inggris.akibatnya, teknologi rudal dan roket kurang berkembang di era orde baru, dan membuat Indonesia semakin jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain bukan hanya di Asia namun di dunia.
boleh dibilang seperti mayat hidup teknologi roket pasca orde baru berkembang.


pada saat itu  LAPAN belum terbentuk, karena LAPAN baru dibentuk pada tanggal 27 November 1963, melalui Keppres Nomor 236 tahun 1963 tentang LAPAN.namun dibatasin hanya untuk riset dan pendidikan, bukan untuk militer.
boleh dibilang pembuatan  roket Kartika 1 pada masa itu itu asli buatan AURI bersama ITB (bisa diliat logo segilima merah putih di fin-roket).
Setelah Kartika sukses, barulah LAPAN lahir dengan personel dari AURI dan ITB yg masuk tim riset PRIMA (Proyek Roket Militer dan Ilmiah Awal).
saat ini Lapan sedang bergerak maju untuk mengejar ketertingalan nya.di mulai langkah kecil setapak demi setapak akan menjadi pembuka jalan kejayaan bangsa indonesia seperti dekade 1960


 Sumber : LAPAN
               ensiklopedia tni au dasawarsa 1960
                

Minggu, 02 November 2014

sejarah roket indonesia

Sejarah roket Indonesia

sejarah Roket dan Rudal di Indonesia dimulai sejak RI membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet . Era Sukarno kita membeli persenjataan banyak untuk mempersiapkan konftontrasi Dwikora maupun Trikora.

Industri roket bukan hal baru bagi Indonesia. Teknologi pembuatan roket di Indonesia sudah dirintis sejak tahun 1960-an. Indonesia bahkan termasuk negara kedua di Asia dan Afrika, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri.

Sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi.

ABRI (nama lama TNI) beserta ITB (Institut Teknologi Bandung) mencoba dan melakukan pengembangan lebih lanjut tapi karena keterbatasan dana dan politik, maka riset terasa lamban malah seperti terhenti. namun bangsa kita telah berhasil menciptakan prototye beberapa roket.

Sebenarnya masih banyak roket2 besar bikinan AURI dan ITB, diantaranya WIDYA, YOGA, dll, namun perkembangannya terhenti, setelah tahun 1965, AURI kena getahnya kasus G-30S.


sejarah lain"

Pada 22 September 1962 dibentuk Projek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB yang dipimpin Boediardjo dan J Salatun. Tonggak sejarah awal ini ditandai dengan peluncuran roket ilmiah seri Kartika pada tahun 1964. Roket Kartika I merupakan roket sounding kedua di negara Asia-Afrika saat itu, sesudah Jepang. Alat telemetrinya yang kedua sesudah India, berhasil merekam sinyal-sinyal dari satelit cuaca TIROS dengan alat buatan dalam negeri.

Roket Kartika I diluncurkan dari pamengpeuk dengan berat 220 kg, roket Kartika II berbobot 66,5 kg dan berjarak tempuh 50 km. Setelah Orla tumbang digantikan Orba, fokus teknologi dirgantara sangat condong dengan industri pesawat terbang dengan hadirnya BJ Habibie di dekade 1970-an. Perkembangan teknologi luar angkasa berjalan terseok-seok. Kini negara Asia yang sangat maju dan intesif mengembangkannya adalah Jepang, RRC, dan India. Saat ini telah disusul Iran dan sangat besar kemungkinannya adalah Pakistan. Bahkan RRC memiliki program taikonot untuk menempatkan ilmuwan China ke angkasa luar.Mereka pada tahun 2008 berhasil menempatkan 3 awak dengan kapsul Shenzhou VII di luar angkasa dan Zhai Zhigang adalah taikonot pertama mereka dengan melalukan spacewalk pertama selama 20 menit. Menjadikan RRC sebagai negara keriga di dunia yang berhasil menempatkan manusia di luar angkasa setelah Soviet/Rusia dan Ameika Serikat.

Seandainya Indonesia konsisten mengembangkan teknologi roket luar angkasa tidaklah mustahil kini bisa sejajar dengan negara-negara tersebut. Bahkan teknologi roket sangat strategis dalam sistem pertahanan dan efek deterrent besar karena dengan mudah diubah untuk fungsi militer menjadi rudal balistik jarak jauh dan mengganti payload dengan hulu ledak. Efek deterrent jauh lebih besar dari pada pesawat tempur. Sayang, harapan itu hingga sekarang masih dalam taraf perintisan sejak hampir lima puluh tahun yang lalu. Masih berkutat dengan proyek ekperimental meski diakui semakin melangkah maju. Baru kemudian pada tahun 1987, Indonesia melalui LAPAN kembali membuat roket yang diberi nama RX-250 LPN. Roket ini merupakan roket berbahan bakar cair dan padat dengan berat 300 kg memiliki panjang 5,30 meter berdaya jangkau 70 km.

Terakhir Lapan telah berhasil meluncurkan roket eksperimental RX-320 pada 30 Mei 2008 dan RX-420, 2 Juli 2009, yang dilaksanakan di Stasiun Uji Terbang Pamengpeuk, Jawa Barat. Itu mendekati fase akhir untuk peluncuran RPS (Roket Pendorong Satelit). Roket tersebut merupakan roket pendorong satelit bertingkat empat yang disebut dengan Roket Pendorong Satelit (RPS)-420 dan direncanakan bisa diluncurkan 2014. Stasiun peluncuran akan dibangun di pulau Enggano yang lebih representatif daripada di Pamengpeuk Garut Jabar. Saat ini ilmuwan Indonesia telah mampu membuat satelit mikro TUB-SAT mekerja sama dengan Universitas Teknologi Berlin. Satelit mikro pertama bernama LAPAN-A1 telah diluncurkan pada 2007 dengan roket India di stasiun peluncuran Shriharikota

Skema perang TNI vs Singapura

Perang .. siapapun tidak menyukainya.namun jika hal itu terjadi, suka tidak suka kita harus siap menghadapinya.perang yang kemungkinan terjadi di sekitar kita adalah perang dengan negara tetangga terdekat.sebut saja singapura,malaysia,australia.

perang terjadi pasti di awali dengan serangan udara baik oleh roket, rudal atau pesawat tempur. jika hal itu terjadi apakah kekuatan udara TNI AU mampu untuk melawan atau tidak.kita berbicara fakta yang ada dan data yang tercatat.




Kita asumsikan pada tahun 2015, TNI AU sudah menuntaskan akuisisi:

- 24 F-16 blok 32+ dan Blok d-52 ..ex US 
- C-295 AEW&C, dengan radar IAI ELTA AESA, SAR (radar darat), dan radar maritim. Konfigurasi optimal untuk mendukung F-16 (berarti tidak optimal untuk Su-27/30 yang jumlahnya hanya sedikit). Jika sebelumnya simulasi lawan menggunakan kapabilitas RTAF, kali ini kita menggunakan kapabilitas Singapore Armed Forces (SAF), dalam hal ini tentunya RSAF (Republic of Singapore Air Force).
Untuk lebih menunjukkan lemahnya TNI AU tahun 2015, pada simulasi serangan kali ini, F-15 RSAF tidak ikut serta. Para pilot F-15 RSAF diliburkan ke Hawaii, karena 86 F-16 RSAF dianggap sudah lebih dari cukup untuk serangan.


Stage 1 adalah pertempuran beyond visual range (diluar jarak pandang) 

dengan bantuan pesawat radar (AEW). RSAF maju dengan armada F-16 ditemani G-550 CAEW.Tipikal pertempuran terjadi antara 4 AURI F-16 melawan 2 RSAF F-16, sebagaimana Stage 1 dibawah ini. Sekalipun jangkauan radar AEW kita asumsikan sama, namun BVRAAM RSAF lebih jauh jaraknya, lebih cepat mengunci dan menembak lebih dulu (AIM-120-C7), dengan dukungan G-550. TNI maksimal diberikan kongres AS izin untuk membawa AIM-120-B yang lebih jadul, sesuai doktrin militer AS yang tidak mau mempersenjatai negara non-sekutu lebih daripada negara sekutu (suatu hal yang wajar).
13446656231540597807
Pada kenyataanya, sangat mungkin ke-4 AURI F-16 sudah hancur pada tahap ini. Namun untuk membuat skenario lebih seru, kita asumsikan 3 AURI F-16 berhasi lolos.



Stage 2 adalah pertempuran beyond visual range (diluar jarak pandang) 

yang dilakukan secara mandiri dengan rudal jarak menengah yang ditembakkan dan dikendalikan langsung oleh fighter.
Pada TUM-DJP (Tempur Udara Mandiri - Diluar Jarak Pandang), RSAF F-16 unggul karena radarnya 30 - 50% lebih jauh dibanding AURI F-16. Demikian pula komputer targettingnya, jauh lebih canggih. Akibatnya, RSAF akan lebih dahulu mengunci dan menembah AURI F-16.
13446656881943037765
Disini pun sebenarnya AURI F-16 tidak mungkin lolos. Dilema yang dihadapi oleh pilot F-16 adalah melakukan manuver g-force tinggi, yang beresiko rusaknya air frame F-16 tua (produks 1984), dengan kemungkinan lolos dari rudal Mach 4 sangat kecil. Atau memilih tombol eject.
Namun demi skenario, kita asumsikan 2 AURI F-16 atas doa masyarakat Indonesia, berhasil lolos, bahkan menembakkan rudal AIM-120B-nya.
Hanya saja kemampuan counter measure RSAF F-16 sudah jauh diatas, sehingga besar kemungkinan AMRAAM AURI tersebut dipatahkan oleh SPS-3000, jamming dari AEW, serta manuver lincah F-16 blok 52.

Stage 3 adalah pertempuran menggunakan rudal jarak dekat, yang dilakukan dalam jarak pandang.
13446657541726626595
Tibalah di penghujung acara: dogfight. RSAF memiliki rudal dengan kemampuan tembak lebih dulu (AIM-9X dan Phyton 5). Rudal tersebut juga lebih mudah melakukan locking, karena mampu melacak pesawat musuh pada sudut yang sulit.



stage 4 dog fight

Paling kejam Phyton-5 buatan Israel, bisa mengunci dan menembah sekalipun pesawat musuh berada di belakang. Sehingga pilot RSAF tidak perlu repot-repot melakukan manuver mengejar F-16 AURI.

Disini tidak ada nasib lain, F-16 AURI dihancurkan dengan sukses.
Sesuai skema 4 lawan 2 ini, demikian juga berlangsung antara 24 AURI F-16 blok 32 eks USANG (Ogdon upgrade), melawan 86 (baca yang keras: DELAPAN PULUH ENAM) RSAF F-16 blok 52+ brand-new state-of-the-art (Israeli upgrade).

Nasib yang tidak jauh beda untuk 4 Su-27 dan 6 Su-30, dimana efektif yang mampu melawan hanyalah 2 AURI Su-27 SKM/SMK dan 3 unit AURI Su-30 MK2. Namun dengan jumlah pesawat sangat sedikit (5 lawan 86), tidak ada dukungan AEW (C-295 di set untuk dukungan F-16 / AIM-120, tidak optimal mendukung Sukhoi / R-77 RVV), nasib burung besar itu dapat dipastikan. Tanpa perlu RSAF menurunkan F-15-nya, karena pilotnya masih berlibur di Hawaii.

Setelah kekuatan udara TNI AU dihancurkan, SAF mencapai supremasi udara total. Selanjutnya adalah meraih superioritas udara, melalui operasi SEAD (Suppression of Enemy Air Defense).
13446658051329593650
Lagi-lagi tidak ada perlawanan berarti. TNI AD maksimal memiliki SAM jarak menengah Hawk yang sudah udzur, bau tanah. Teknologi tertinggal jauh. Juga Rapier yang cukup tua. Yang muda dan baru hanyalah Grom, yang jangkauan pendek (5.5 km).
Demikianlah seluruh hanud modern TNI AD dihancur leburkan dengan peluru kendali jarak jauh. Menyisakan segelintir Manpad yang tidak akan pernah melihat fighter modern.

Stage 5 adalah perang antara pesawat tempur dengan kapal perang untuk merebut dominasi laut.

Setelah meraih supremasi udara, kini RSAF beralih ke laut, mengejar dan menghancurkan kapal-kapal TNI AL yang memiliki armada terkuat di seluruh Asia Tenggara.
1344665878851128296
Hasilnya sama, seluruh kapal TNI AL tidak ada SATUPUN yang memiliki kemampuan hanud memadai. Mulai dari kapal perang kuno yang besar-besar, sampai kapal perang terbaru. Dari jarak jauh, hujan AGM-84 dan AGM-88 mengejar fregat TNI. AK-230 menyalak, mungkin bisa menembak jatuh satu atau dua rudal, sebelum kapal Parchim-nya dihajar rudal.
Kapal-kapak selam TNI AL di buru oleh S-70B Seahawk, dengan bantuan intai dari AEW yang memiliki kemampuan radar maritim.

Dengan dikuasainya laut, maka RSN (Republic of Singapore Navy) dapat mempersiapkan operasi pendaratan lintas laut. Para pelaut TNI AL terpaksa mendarat, bergabung bersama Marinir, untuk melakukan PERANG GERILYA RAKYAT SEMESTA.
UPDATE: TNI AL mengadakan 3 kapal korvet F2000 kelas Nakhoda Ragam dengan senjata pertahanan udara jarak menengah. Kapal ini adalah KRI 358 John Lie, KRI 359 Usman Harun, dan KRI 357 Bung Tomo. 3 kapal tersebut sebenarnya pesanan Brunei, namun Brunei membatalkan pesanan karena menilai kapal tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipesan. BAE System yang membangun kapal tersebut kemudian menjualnya kepada Indonesia dengan 1/5 harga. Belum dapat dikonfirmasikan apakan seluruh sistem  Nautis II dengan rudal MICA, dipasang pada kapal-kapal tersebut. Jika terpasang, kapal ini akan mampu mempertahankan diri dari serangan rudal anti kapal subsonic (AGM 84, Exocet, dsb).

Stage 6 adalah serangan udara ke darat, yang biasanya dilakukan menjelang invasi atau gerak maju pasukan.

Sebelum pendaratan, sekali lagi RSAF berburu kendaraan lapis baja TNI AD. Ke-100 Leopard 2 kebanggaan TNI AD hancur lebur dikejar Maverick dan Hellfire dari F-16 dan Longbow Apache. Untuk menyelamatkan, sebagian besar Leopard terpaksa harus di kubur atau di sembunyikan di dalam hutan.
TNI AD pun bersiap untuk melakukan PERANG GERILYA RAKYAT SEMESTA.
13446660121773121583
Dengan santai RSN melakukan pendaratan tanpa perlawanan di kepulauan sekitar Singapura, mulai dari Natuna, Batam, Bangka, Belitung, bahkan, untuk menunjukkan keterbatasan kapabilitas TNI, SAF melakukan pendaratan merebut Kalimantan Barat dan sekitarnya, membangun buffer zone.

TNI AD yang bersiap melakukan perang gerilya terhenyak, ternyata sudah tidak ada stok ranjau anti personel TNI, yang sangat vital untuk pertahanan gerilya.
Usut punya usut, ternyata ada politisi yang men-sabotase kemampuan perang gerilya rakyat semesta TNI, dengan cara mengikut sertakan Indonesia dalam rezim anti ranjau internasional, yang di ratifikasi oleh parlemen ngawur beberapa tahun silam.
Komponen cadangan pun tidak jelas mekanisme mobilisasinya. Belum keluar permen dan PP pelaksanaan UU-nya yang baru. Dibentuklah milisi-milisi kaum nasionalis dengan rantai komando tidak memadai, sehingga terjadi banyak kasus pelanggaran HAM dari para preman petualang yang bergabung.

stage 7 aneksasi wilayah 

Para Jenderal TNI pun dituntut atas tuduhan pelanggaran HAM. Segera setelah itu terjadi genjatan senjata. Pasukan perdamaian PBB diturunkan mengawasi buffer zone di Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan. Dibentuk Komisi Rekonsiliasi, agar Jenderal TNI tidak perlu diseret ke Pengadilan HAM Internasional.
Tapi toh ini semua cuma dongeng dari tukang jaga warnet.

Lalu, apa dampak mengabaikan kapabilitas tempur modern TNI AU ?
13446659582130257887
Disini Singapur hanya contoh mewakili Kemampuan Serang Tier 4 MDCI. Artinya semua Tier 4 (Thailand, Singapura, Australia) memiliki kemampuan setara itu, dan Tier diatasnya (RRC, India, dan AS) memiliki kemampuan lebih tinggi.

Sejarah selalu berulang. Kegagalan Meksiko membangun kapabilitas tempur sebanding dengan AS, berakibat hilangnya lebih 1/2 wilayah Meksiko (termasuk Kalifornia, Texas, dsb). Kegagalan Prusia, Austria, Polandia, Chekoslovakia, dsb. Pada prinsipnya sama: gagal membangun kapabilitas tempur sebanding dengan militer yang dapat di proyeksikan ke wilayahnya. Hasilnyapun sama: kehilangan wilayah teritorial.