Jumat, 12 Desember 2014

NAZI JERMAN DI INDONESIA

Armada Kapal Selam Jerman (U-Boat) Di Indonesia!



 Enam orang awak U-195 yang tadinya hendak bergabung dengan pejuang kemerdekaan di Bogor tapi kemudian malah tertangkap Belanda di Pasar Pesing, Jakarta. Mereka lalu ditahan di Penjara Glodok, terus di Pulau Onrust (September 1945 - Januari 1946), sebelum dipindahkan ke Malang sampai dengan tahun 1948 karena Inggris dan Belanda khawatir mereka berupaya dibebaskan oleh TKR dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Berdiri, dari kiri ke kanan: Oberleutnant zur See Fritz Arp (16 Januari 1915 - 29 Juni 1963), Wachtoffizier; Maschinenmaat Erich Döring (29 Maret 1921); dan Hans Philipsen. Jongkok: Alfred Pschunder; Maschinenobergefreiter Heinz Ulrich (10 Agustus 1924); dan Oberleutnant (Ing.) Herbert Weber (3 Juni 1914). Saya tidak berhasil menemukan keterangan mengenai Philipsen serta Pschunder dalam daftar 95 orang yang pernah bertugas di U-195,






BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman(Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan "kawan sejawatnya", Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.



Dilindungi pribumi

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi "sesepuh" di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.

Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api



Jakarta Pernah Disinggahi Senjata Nuklir

U-195 dan U-219 Nyaris Ubah Sejarah
DARI berbagai kapal selam Jerman yang beraksi di Indonesia adalah U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah di Asia-Pasifik, jika Jerman dan Jepang tidak keburu kalah. Kedua kapal selam itu membawa uranium dan roket Nazi Jerman, V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima.

Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba dengan Amerika Serikat dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di Kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, projek senjata nuklir Jepang untuk ditembakkan ke wilayah Amerika Serikat.

Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin's Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan's Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi.

Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman.

Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 95 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia.

Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT. Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947.

Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948.

Kisah aksi tugas kapal selam Jerman selama perang Dunia II juga menjadi ilham dibuatnya film berjudul "Das-Boot," yang dirilis di Jerman tahun 1981. Salah satu nara sumber autentik mengenai kehidupan para awak u-boat, adalah mantan perwira pertama dari U-219, Hans Joachim Krug, yang kemudian menjadi konsultan film itu.

Tak heran, pada film berdurasi 145 menit tersebut, para awak kapal selam Jerman tergambarkan secara autentik. Pergi berpenampilan rapi namun pulang dalam keadaan dekil, maklum saja karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu di dalam air, mereka jarang mandi sehingga janggut, kumis, dan rambut pun cepat tumbuh.

U-234 KS modern xb
Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945. Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk projek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262.

Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234.

Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka.

Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasakidan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.


Misteri Hilangnya U-196 di Laut Kidul

DARI sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di indonesia, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.

Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.

Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.

Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.

Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.

Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.

Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah "menggelapkan" kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga Negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196.


peninggalan AU jerman di indonesia 

AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dahulu pernah memiliki empat buah pesawat Messerschmitt Bf 109, tapi sayangnya saat Agresi Belanda ke-2 keempat pesawat tersebut hancur di lapangan udara Maguwo (Yogyakarta). Bagaimana ceritanya sampai pesawat Luftwaffe sekelas Messerschmitt Bf 109 sampai berada di Indonesia? Mereka adalah bekas pesawat Jepang yang tertinggal di Lapangan Andir Bandung, lalu diterbangkan ke Maguwo hingga hancur karena serangan Belanda (Jepang memang pernah menerima beberapa Bf 109 dari jerman sebagai bentuk alih teknologi, dan hasilnya adalah versi lokal Kawasaki KI61 Hien).



 Dari lima buah Bf 109 yang diterima, empat buah diantaranya dikirim ke lapangan udara Andir Bandung sedangkan satu buah lagi dijadikan bahan riset untuk menghasilkan KI61 Hien. Di buku Alutsisa TNI AU Periode tahun 1946 - 1950 disebutkan bahwa di lapangan udara Andir ditemukan pesawat Ki 61 Hien. Apakah itu yang dimaksud dengan Messerschmitt Bf 109 ini? Abdul Rachman Saleh juga pernah membaca buku petunjuk untuk bisa menerbangkan pesawat Mustang Jepang ini, 

dimana di dalam buku "Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid III" diterangkan oleh Marsda TNI Purn R. A. Wiriadinata bahwa dia pernah mendampingi Abdul Rachman Saleh di Pangkalan Udara Singosari Malang sekitar paruh kedua tahun 1946 hingga paruh pertama tahun 1947, yang mana Pak Abdul Rachman Saleh sibuk mempelajari buku-buku dan kokpit pesawat Mustang Jepang. Yang menarik untuk dikaji adalah: apakah yang dimaksud dengan Mustang Jepang tersebut sebenarnya adalah Ki 61 Hien atau Messerschmitt Bf 109? Karena kalau itu yang didapat di Bandung itu kemungkinan yang versi Messerschmitt Bf 109. Selain pesawat Messerschmitt Bf-109E ( Emil )-7, Jepang juga diketahui membangun pesawat pemburu yang menyerupai pemburu Luftwaffe kerena mendapat bantuan teknis dari Jerman yaitu Mitsubishi J8M Shusui yang mirip Me-163 Komet dan Nakajima Kikka yang mirip jet tempur Me-262.


Sumber :
Foto koleksi pribadi Juergen Kodar
BERBAGAI sumber 

Selasa, 02 Desember 2014

misteri alusista TNI



1.Misteri pembelian rudal yakhont


mantan Menhan Juwono Sudarsono mengemukakan pembelian Rudal dan suku cadang pesawat tempur itu sudah sesuai aturan.Kepmen No. 01 tahun 2005.

“Saya diberitahu oleh Irjen Dephan dan Dirjen Rencana Sistem Pertahanan bahwa  Kepmen No. 01 tahun 2005 / Kepmen No. 15 tahun 2005. Keputusan No. 15 itu mengatur mengenai pengadaan barang dan jasa, bukan melalui fasilitas kredit ekspor,dalam hal ini pembelian rudal yakhont pada tahun 2004 dan  proses rekayasa penyatuan sistem berhasil  pada tahun 2007

Peluru kendali buatan Russia itu terpasang diatas KRI Oswald Siahaan-354 sekitar tahun 2008



rudal Yakhont sebenarnya sudah dimiliki sejak tahun 2007, namun TNI AL baru bisa melakukan uji coba kali ini karena untuk mengintegrasikan sistem kapal dengan rudal membutuhkan waktu yang lama.
mantan Komandan Gugus Tugas Senjata Strategis TNI AL, Laksamana Pertama TNI Sulaeman Banjarnahor, mengatakan, dalam uji tembak tersebut rudal Yakhont hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit mencapai sasaran. Sulaeman mengatakan,

alasan dibelinya rudal Yakhont dari Rusia, kata Iskandar, karena berdasarkan kajian rudal Yakhont bisa memenuhi standar geografi di Indonesia. 

"Rudal Yakhont tidak didesain untuk menenggelamkan kapal, tapi hanya untuk melumpuhkan kapal," kata Sulaeman seraya menambahkan masa pakai rudal bisa mencapai 20 hingga 30 tahun, namun perlu dikaji kembali, mana yang lebih pas.(*)
rudal asal Rusia itu dibeli dengan harga US$1,2 juta perunit.

 beberapa rudal Yakhont yang dibeli oleh TNI AL dari Rusia itu memiliki kecepatan hingga mencapai dua mach atau dua kali melebihi kecepatan suara dengan jangkauan sasaran 300 kilometer. Harga satu rudal Yakhont mencapai 12 juta dollar Amerika.


Enam senjata rudal strategis diantaranya : rudal Yakhont, Exocet MM-40, Torpedo SUT, Mistral, Seacat dan RBU 6000. Rudal Yakhont ditembakkan dari Fregat Van Speijk class KRI Oswald Siahaan-354 sukses ditembak menuju sasaran yang berjarak 250Km yakni eks kapal perang KRI Teluk Bayur-502. Rudal Yakhont yang ditembakkan merupakan salah satu dari empat rudal yang dibawa KRI Oswald Siahaan-354.

Sedangkan, rudal Exocet MM-40 dan rudal penangkis serangan udara Mistral ditembakkan dari Korvet Sigma class KRI Hassanuddin-366 dan torpedo SUT ditembakkan dari kapal selam kelas 209 KRI Cakra-402. Untuk rudal anti pesawat Seacat ditembakkan dari KRI Karel Satsuit Tubun-358 dan KRI Oswald Siahaan-354. Roket anti-sub-mortar RBU 6000 ditembakkan dari Korvet Parchim class KRI Cut Nyak Dien-375.




2.misteri kapal Aoron MK2

Aoron MK2 adalah kombinasi antara kapal ampibi ringan dan pesawat aeromodeling.adapun kegunaan nya untuk misi pemantauan dan misi mata mata.dengan kemampuan dapat terbang rendah diatas ombak  setinggi 2 meter menjadikan nya sulit di tangkap radar.hanya  TNI AL  yang tahu maksud dan kegunaannya , atau hanya prototipe yang tidak laku karena di anggap tidak batle proven.

   









3.misteri pembuatan klewang 2

setelah hancur terbakar, klewang 625 akan di bangun kembali, namun untuk kali  ini pembuatannya boleh di bilang misteri dan serba tertutup.hanya beberapa potongan gambar dan sedikit info tentang kapal tersebut.





rancang bangun terakhir diperkirakan akan selesai satu tahun kedepan dengan beberapa perubahan pada sistem senjata dan rudal yang akan di gunakan serta sistem radar terbaru buatan swedia.


4.misteri 12 whiskey class 

tidak banyak tahu kemana "hilangnya" KS whiskey class. dari 12 unit semula  hanya 3 yang sempet terdeksi keberadaan nya. dan hanya satu yang dapat di lihat karena telah di jadikan museum kapal selam di surabaya.










5.misteri lain dalambentuk gambar





pesawat tanpa kode TT or TS or TA

nanggala polos/cakra polos

sebuah KS di tanjung priuk

                  sisa sisa rudal  sa -2 dalam kenangan
          truk  membawa alusista strategis?



Senin, 01 Desember 2014

Teknologi Rahasia Jerman sejak perang dunia II

Teknologi Rahasia Jerman  sejak perang dunia II



1.Roket V-2, Cikal bakal  Roket Modern


































Roket V-2 (bahasa Jerman: Vergeltungswaffe 2) adalah peluru kendali balistik buatan manusia pertama yang bisa mencapai titik sub-orbital di luar angkasa. Roket ini telah menginspirasi berbagai roket modern termasuk roket Saturn V yang dipergunakan dalam perjalanan ke bulan. Lebih dari 3,000 buah roket tipe ini diluncurkan sebagai senjata oleh militer Jerman untuk membidik sasaran dari pasukan Sekutu dalam Perang Dunia Kedua, yang mengakibatkan kematian lebih dari 7,250 dari pihak militer dan penduduk sipil, sedangkan tidak kurang dari 20,000 orang menemui ajalnya di Mittelbau-Dora selama proses pembuatannya.

Mengikuti suksesnya di desa Kummesdorf dengan dua roket seri Aggregate, Wernher von Braun dan Walter Riedel mulai memikirkan rancangan roket yang jauh lebih besar pada musim panas 1936 dengan dasar sebuah mesin yang diprojeksikan memiliki gaya dorong 25 metrik ton. Proyek A-4 ditunda setelah test stabilitas aerodinamis model A-3 pada tahun 1936 memberikan hasil mengecewakan, von Braun memberi perincian perfomance A-4 pada tahun 1937, dan desain dan konstruksi A-4 dilaksanakan sekitar tahun 1938-1939.

Pada tanggal 28-30 September 1939, Konferensi Der Tag der Weisheit (hari kebijakan) diadakan di Peenemunde untuk memulai pembiayaan riset universitas untuk memecahkan masalah keroketan. Pada ahir 1940, Pusat Riset Angkatan dara di Peenemünde berhasil memecahkan teknology inti yang erat dengan suksesnya tipe A-4. Teknologi itu adalah mesin roket besar berbahan bakar cair, aerodinamika supersonik, gyroscopic guidance dan sirip pengontrol semburan jet. Pada saat itu, Hitler tidaklah terlalu terpesona dengan V-2, ia menunjukan bahwa roket V-2 hanyalah sebuah peluru artileri yang memiliki jarak lebih jauh dan harga yang jau lebih tinggi!

Pada awal September 1943, von Braun menjanjikan Komisi Pengeboman JarakJauh bahwa pengembangan A-4 telak selesai, tetapi kenyataannya sampai pertengahan 1944, daftar komponen A-4 yang lengkap belum siap. Hitler kemungkinan masih tetap tidak terpesona dengan kemampuan senjata itu tetapi mengagumi dedikasi tim pengembang V-2, dan Hitler juga memerlukan sebuah "wonder weapon" (senjata yang menakjubkan) untuk menjata moral bangsa Jerman. Hitler menyetujui implementasi jumlah besar senjata V-2.

Pada saat peluncuran tipe A-4 meluncurkan diri dengan tenaganya sendiri sepanjang 65 detik dan sebuah motor program mengontrol sudut hidung pada derajat yang ditentukan saat mesin dimatikan, yang kemudian roket ini melanjukan penerbangan dengan trajektor jatuh-bebas (free fall). Roket ini mencapai ketinggian 80 km sebelum mesin dimatikan.

Pompa bahan bakar dan bahan oksidasi ditenagai oleh turbin uap,yang uapnya dihasilkan oleh pencampuran Hidroken peroksida dan katalist potasium permanganate. Tanki alkohol dan tanki oksigen, keduanya terbuat dari aloi magnesium-aluminium.

Reaksi di ruang pembakaran mencapai 2500−2700 °C. Bahan bakar air-alkohol dipompa melalui ruang berdinding dua dari ruang pembakaran utama (bagian bawah). Ini mendinginkan dinding ruang pembakar utama dan memanasi bahan bakar (regenerative cooling). Bahan bakar kemudian dipompa kedalam ruang bakar utama melalui 1.224 nossel, yang memastikan ketepatan campuran alkohol dan oksigen selama pembakaran. Lubang-lubang kecil juga memperbolehkan sebagian alkohol masuk ke dalam ruang bakar membentuk lapisan tipis (boundary layer) dingin yang melindungi dinding ruang pembakar, terutama pada leher bagian sempit dari ruang. Lapisan tipis (boundary layer) alkohol ini menyala jika membuat kontak dengan atmosfer, yang menghasilkan ekor jet api yang panjang dan lembut (difuse) (mesin desain akhir setelah V-2 tidak menggunakan effek alkohol tipis untuk mendinginkan dinding dan memperlihatkan ekor berpola "shock diamond")

V-2 diarahkan dengan menggunakan empat sirip ekor dan empat kipas terbuat dari grafit pada bagian akhir motor roket. LEV-3 guidance system (sistem kontrol) terdiri dari dua giroskop bebas (horisontal dan vertikal) untuk stabilisasi lateral dan sebuah giroskop akselerometer yang disambung ke elektrolitik integrator (mesin dimatikan saat lapisan perak tipis habis terelektrolisa pada sisi dasar yang berkonduksitasi rendah). Beberapa model akhir V-2 memakai "sinar penuntun" (signal radio yang dipancarkan dari tanah) untuk bernavigasi ke arah target, tetapi mode-model awal menggunakan komputer analog sederhana yang mengontrol azimuth roket, jarak terbang dikontrol melalui jumlah waktu sampai mesin dimatikan, dan "Brennschluss", pengontrolan dari darat dengan menggunakan sistem doppler atau berbagai akselerometer integrasi di dalam roket. Roket kemudian berhenti menambah kecepatan set dan mencapai titik terbang tertinggi (kira-kra berbentuk parabola)



Tipe: single stage ballistic missile (area bombing)
Negara asal: Nazi Jerman
Masa penggunaan: 8 September 1944–19 September 1952
Digunakan oleh: Nazi Jerman, Amerika Serikat (pasca perang) dan Uni Soviet (pasca perang)i
Produsen: Mittelwerk GmbH (pengembangan oleh Pusat Penelitian AD Peenemünde)
Biaya produksi: 100.000 RM Januari 1944, 50.000 RM Maret 1945
Diproduksi: 16 Maret 1942


Spesifikasi

Berat: 12.500 kg (28,000 lb)
Panjang: 1.400 m (4,600 kaki)(14 m)
Diameter: 165 m (540 kaki)
Hulu ledak: 980 kg (2,200 lb) Amatol
Wingspan: 356 m (1,170 kaki)
Bahan bakar: 3.810 kg (8,400 lb) dari 75% ethanol dan 25% air + 4.910 kg (10,800 lb) oksigen cair

Daya jelajah: 320 km (200 mil)
Ketinggian terbang: 88 km (55 mil) ketinggian maksium dalam lintasan jarak jauh, 206 km (128 mil) ketinggian maksimum bila diluncurkan secara vertikal.
Kecepatan maksimum: 1.600 m/s (5,200 ft/s); saat tumbukan 800 m/s (2,600 ft/s)
Sistem penuntun: Giroskop sebagai pengendali ketinggian, akselerometer giroskopik tipe bandul Müller untuk penghentian mesin di kebanyakan roket yang diproduksi (10% roket Mittelwerk digunakan sebagai balok penuntun saat penghentian mesin)
Alat peluncur: Mobile (Meillerwagen)


2.Silbervogel: pesawat pembom antariksa pertama dunia

Ilmuwan Jerman Dr. Eugen Sänger sedang menerangkan tentang metode skip-flight dari roket yang diciptakannya




 Pada bulan Juni 1935 dan Februari 1936, Dr. Eugen Sänger menerbitkan artikel tentang pesawat bermesin roket yang di publikasikan oleh Flug, majalah penerbangan dari Austria. Hal ini menyebabkan dirinya diminta oleh Komando Tinggi Jerman untuk membangun sebuah lembaga kedirgantaraan yang melakukan penelitian rahasia di Trauen untuk meneliti dan membangun sebuah pesawat dengan konsep yang sama yang dinamakan dengan "Silbervogel" (Burung Perak). Pesawat itu berawak, dan mempunyai sayap yang bisa mencapai orbit bumi! Dr. Sänger telah bekerja dengan konsep ini selama beberapa tahun, dan bahkan ia telah mulai mengembangkan bahan bakar cair untuk mesin roket. Dari 1930 sampai 1935, ia telah menyempurnakan (melalui pengujian statis yang tak terhitung) mesin roket yang berbahan bakar cair yang dapat didinginkan oleh bahan bakar sendiri, yang beredar di sekitar ruang pembakaran. Mesin ini menghasilkan kecepatan 3048 meter/detik (10.000 kaki / detik), dibandingkan dengan V-2 roket dengan kecepatan yang "hanya" 6.560 kaki/detik. Dr. Sänger, bersama dengan para staffnya, terus bekerja di Trauen untuk mengembangkan "Silbervogel" di bawah program yang dirahasiakan.

Pesawat yang dijuluki dengan Amerika Bomber (atau Orbital Bomber, antipodal Bomber atauAtmosfer Skipper) dirancang untuk mempunyai kecepatan supersonik, penerbangan sampai stratosfer. Pesawat berbadan rata, yang membantu menciptakan daya angkat dan bersayap pendek dan berbentuk baji. Ada permukaan ekor horizontal terletak di ujung belakang pesawat, yang memiliki sirip kecil di setiap ujungnya. bahan bakar disimpan dalam dua tangki besar, sementara tangki Oksigen terletak satu di sisi pesawat. Ada mesin roket yang beratnya 100 ton dipasang di bagian belakang pesawat, dan diapit oleh dua mesin roket tambahan. Pilot duduk di kokpit pesawat yang bertekanan di depan, dan tiga roda yang terletak dibawah itu cocok untuk mendarat . Sebuah tempat bom pusat diisi dengan satu bom dengan berat 3629 kg (8000 lb), dan tidak ada persenjataan defensif yang dipasang. Berat kosong adalah sekitar 9979 kg.

Hal yang menarik adalah bagaimana cara “Silbervogel” untuk terbang. Untuk terbang, “Silbervogel” Itu harus didorong dengan sebuah track mono trail dengan panjang 3 km (1.9 mil) dengan sebuah kereta luncur bertenaga roket yang dapat mendorong benda seberat 600 ton dalam waktu 11 detik! Setelah lepas landas pada sudut 30 derajat dan mencapai ketinggian 1,5 km, kecepatan 1850 km / jam (1.149 mph) akan tercapai. Pada titik ini, mesin roket utama akan dinyalakan selama 8 menit dan membakar 90 ton bahan bakar untuk menggerakkan "Silbervogel" untuk mencapai kecepatan maksimum 22.100 km / jam (13.724 mph) dan ketinggian lebih dari 145 km (90 mil), meskipun beberapa sumber mengatakan ketinggian maksimum yang dicapai adalah 280 km (174 mil). Pesawat mempercepat gerakan dan turun ke bawah karena tarikan gravitasi, kemudian akan memukul udara padat di sekitar 40 km (25 mil). Ini juga memiliki manfaat tambahan untuk pesawat agar melakukan pendinginan setelah mengalami pemanasan karena gesekan intens yang ditemui ketika udara padat tercapai. Pesawat akan melakukan gerakan melompat secara bertahap dan pesawat akan mendarat dengan sepeda roda tiga konvensional atau main landing gear, setelah berpegian sejauh 23.500 km (14.594 mil)!

Fasilitas uji akhir untuk uji mesin roket dengan skala penuh sedang dibangun ketika Rusia diserbu pada bulan Juni 1941. Semua program futuristik tersebut dibatalkan. Dr. Sänger terus bekerja pada desain ramjet untuk DFS (Balai Penelitian Luncur Jerman), dan membantu untuk merancang Skoda-Kauba Sk. Meskipun Luftwaffe melakukan yang terbaik untuk menghentikan Dr. Sänger dari penerbitan hasil penelitiannya, beberapa salinan hilang dan belum ditemukan dan membuat negara lain berupaya keras untuk mencuri salinan tersebut. Setelah perang, ia diminta untuk bekerja (bersama dengan matematikawan Irene Bredt) untuk Kementerian Udara Perancis. Ia bahkan hampir diculik oleh Stalin, yang begitu mengagumi hasil karyanya dan mengakui dengan terus terang bahwa ia memberi nilai 10 untuk Bomber Amerika yang diciptakan oleh Dr. Eugen Sänger!


 3.Fieseler Fi 103 = bom terbang pertama


bayangkan sebuah pesawat dengan berisi bom ..hal ini di ciptakan jerman pafa perang dunia II




 F103  Sitaan tentara amerika hasil penyerahan jerman tanpa syarat






 Inggris pun mendapat satu hasil rampasan dari jerman


Bom Terbang ini dibuat untuk mendukung serangan bunuh diri yang dilakukan oleh Skuadron Leonidas pada masa Third Reich. Relawan dilatih di glider biasa untuk memberi mereka nuansa penerbangan tanpa mesin, kemudian berlanjut ke pesawat khusus dengan sayap diperpendek yang dapat menyelam dengan kecepatan hingga 300 kilometer per jam (190 mph). Setelah ini, mereka berkembang dengan kontrol ganda R-II.

Pelatihan dimulai pada R-I dan R-II dengan hasil cukup memuaskan dimana mereka mampu mendarat kembali meskipun dengan susah payah. Pesawat ditangani dengan baik, dan diperkirakan bahwa Skuadron Leonidas akan segera menggunakan mesin. Albert Speer menulis kepada Hitler pada 28 Juli 1944 dan mengatakan bahwa dia menentang pemborosan laki-laki dan mesin untuk menghadapi Sekutu di Perancis dan menyarankan akan lebih baik untuk menggunakan mereka untuk menghancukan pembangkit listrik Rusia.


Penerbangan Test

Penerbangan nyata pertama dilakukan pada bulan September 1944 di Larz, dimana Reichenberg dijatuhkan dari Heinkel 111. Namun, kemudian bom terbang itu jatuh setelah pilot kehilangan kontrol ketika ia membuang kanopi. Penerbangan kedua pada hari berikutnya juga berakhir dengan kecelakaan, sementara tes penerbangan berikutnya dilakukan dengan pilot penguji Heinz Kensche dan Hanna Reitsch. Reitsch sendiri mengalami beberapa crash-landing, meskipun ia berhasil selamat tanpa cedera! Pada tanggal 5 November 1944 dalam penerbangan uji kedua R-III, sayap jatuh karena getaran dan Heinz Kensche berhasil membuka parasut untuk menyelamatkan diri, meskipun dengan beberapa kesulitan karena ruang kokpit yang sempit.


Pembatalan

Ketika Werner Baumbach diangkat sebagai komandan KG 200 yang misterius pada bulan Oktober 1944, ia ditugasi untuk membentuk unit yang berkekuatan beberapa Reichenberg untuk mendukung proyek Mistel. Dia dan Speer akhirnya bertemu dengan Hitler pada tanggal 15 Maret 1945 dan berhasil meyakinkan bahwa misi bunuh diri bukan bagian dari tradisi prajurit Jerman, dan kemudian hari itu pula Baumbach memerintahkan unit Reichenberg harus dibubarkan.

Varian :
• R-1 - glider dasar tanpa mesin satu kursi.
• R-II - memiliki kokpit kedua dipasang di mana hulu ledak biasanya akan meledak.
• R-III - sebuah single seater, dengan asupan pulse jet dipasang untuk mensimulasikan penanganannya.
• R-IV - model operasi standar bertenaga.

Spesifikasi :
Karakteristik umum
* Kru: Satu
* Panjang: 8 m (26,24 ft)
* Lebar sayap: 5,72 m (18,76 ft)
* Tinggi: ()
* Berat terisi: 2.250 kg (£ 4960)
* Mesin: 1 × Argus Sebagai jet pulsa 014, 350 kgf (770 lbf)

Kinerja
* Kecepatan maksimum: 800 km / h (500 mph (dalam penerbangan diving))
* Kecepatan jelajah: 650 km / h (400 mph)
* Range: 330 km (205 mil)



4.Horten X  = pesawat siluman pertama  dalam sejarah


Para sejarawan masih saling berbeda pendapat akan bagaimana sebutan paling afdol dari pesawat ini. Ada yang menamainya Horten IX, Horten Ho IX, Gotha Go 229, Horten Ho-229. Kalau bagi saya pribadi, pemanggilan Horten IX atau Ho IX lebih condong untuk tipe pengembangannya (glider-glider buatan Horten sebelumnya dinamai Horten I, II, III... dan seterusnya). Versi produksi resminya sendiri (yang dibuat oleh pabrik pesawat Gotha) dinamai Go 229, dan bukannya Ho 229.

Dua bersaudara Walter dan Reimar Horten adalah para pionir dalam pembuatan pesawat bersayap tanpa ekor, dan telah membangun secara berturut-turut pesawat-pesawat 'layar' tanpa mesin berbentuk indah dengan performa menakjubkan pada tahun 1936 s/d 1940, yang diikuti oleh sebuah contoh dengan dilengkapi dua mesin pendorong. Pengalaman mereka dalam membuat pesawat bersayap besar yang dapat terbang adalah sesuatu yang ajaib pada masa itu, dan merupakan satu-satunya di dunia. Pada tahun 1943 Walter Horten menyatakan ketertarikannya untuk membangun sebuah pesawat berkecepatan tinggi yang dibuat dari... kayu! Laporan dari perkembangan DFS 194 (kemudian dinamai Messerschmitt Me 163) yang dikepalai Profesor Lippisch makin meyakinkan Walter bahwa bahkan pesawat dari kayu dapat membawa mesin jet atau roket dan kemudian terbang. Pada tahun 1943 dia mengajukan gagasannya kepada Panglima Luftwaffe Reichsmarschall Hermann Göring, dan tanpa banyak cingcong proyek tersebut disetujui.

Prototipe pertama Horten IX V1 dibangun dengan berdasar pada rancangan layaknya glider. Pengerjaannya hanya makan waktu enam bulan, dan mendapat giliran uji terbang untuk pertama kalinya pada bulan Februari 1944 di Göppingen.


Bersamaan dengan uji terbang dari V1, sebuah prototipe kedua langsung dikembangkan pula. V2 ditenagai oleh dua buah turbojet. Rancangannya merupakan campuran dari berbagai tipe pesawat terdahulu, dan telah mendapat perbaikan disana-sini. Mesin yang digunakan adalah BMW 003 dan bukannya Jumo 004 seperti yang direncanakan semula. Roda depannya yang berukuran besar merupakan contekan dari roda ekor pesawat Heinkel He 177, sedangkan peralatan pendarat utamanya "dipinjam" dari Messerschmitt Bf 109 G.

Penerbangan pertama dilakukan di Oranienburg tanggal 2 Februari 1945. Pilot pengujinya adalah Erwin Ziller. Pesawat tersebut memperlihatkan hasil yang bagus, terutama dalam hal kualitas setirnya dengan hanya secuil instabilitas di bagian samping (yang sekarang merupakan kekurangan utama bagi pesawat-pesawat tak berekor modern). Penerbangan kedua sama suksesnya, meskipun roda pesawatnya rusak akibat parasut rem yang terkembang saat mendarat. Dua minggu kemudian, dalam penerbangan ketiga terjadilah bencana yang tidak diduga-duga. Ziller seperti biasanya tinggal landas dengan pesawatnya untuk melakukan uji coba lanjutan. Ketika ketinggian mencapai 800 m, salah satu mesinnya tiba-tiba ko'it. Sang pilot yang berpengalaman tidak langsung menjerit-jerit layaknya nenek-nenek mandi ketahuan diintip. Dia segera mendorong pesawatnya untuk meluncur ke bawah di ketinggian rendah untuk menolong menghidupkan kembali mesin yang ngadat. Secara mendadak di ketinggian 400 meter roda pesawatnya ngelepot (WTF?) kembali ke dalam. Akibatnya pesawat kehilangan kecepatannya dan tak bisa dikontrol. Erwin Ziller terbunuh ketika pesawat prototipenya menukik menabrak tanah dan hancur lebur.

Meskipun terjadi kemunduran akibat peristiwa kecelakaan ini, proyek tersebut tetap berlanjut dengan segala energi yang tersisa. Komponen prototipe yang masih ada segera dipindahkan ke Gothaer Wagonfabrik (Gotha) yang berada di Friedrichsrode. Pada bulan Maret 1945 proyek difokuskan kepada prototipe ketiga, yang diberi nama Go 229 V3. V3 berukuran lebih besar dibandingkan dengan kedua pendahulunya, dan bentuknya telah lebih disempurnakan lagi di beberapa tempat, yang dimaksudkan untuk menjadi contoh bagi seri pra-produksi pesawat tempur Go 229 A-0 yang telah dipesan oleh Luftwaffe sebanyak 20 buah. V3 ditenagai oleh mesin Jumo 004C, dan dapat membawa dua buah kanon MK108 30mm di pangkal sayapnya.

Tapi semuanya telah terlambat bagi Luftwaffe. Pasukan Amerika menduduki pabrik Gotha pada tanggal 14 April 1945 dan menemukan rezeki nomplok: sebuah prototipe V3 yang 90% selesai dikerjakan dan belum lagi diterbangkan. Empat lagi pesawat lainnya yaitu Go 229 V4, V5, V6 dan V7 hadir juga, dengan beberapa tahap penyelesaian. V4 dan V5 adalah prototipe dengan dua tempat duduk dan direncanakan sebagai versi pesawat tempur malam.

Tentu saja orang-orang Amerika tidak menyia-nyiakan penemuan ini, dan segera menggondol V3 balik ke negaranya. Para ilmuwan disana hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan sudah begitu jauhnya kemajuan yang telah dicapai oleh seterunya dari Jerman. Dahsyatnya lagi, V3 masih dapat disaksikan sampai saat ini, tepatnya di NASM's Paul E. Garber Restoration, Preservation & Storage Facility yang berlokasi di Silver Hill, Maryland.
Terakhir hoprten x inilah menjadi cikal bakal prototipe  pesawat tempur siluman dunia baik amerika , rusia.terutama rancang bangun aerodinamika nya yang sangat luar biasa.

Spesifikasi Horten Ho 229A (V3) :
* Kru: 1 orang
* Panjang: 7,47 m (24 ft 6 in)
* Rentang Sayap: 16,76 m (55 ft)
* Tinggi: 2,81 m (9 ft 2 in)
* Bagian sayap: 50,20 m² (540.35 ft²)
* Berat kosong: 4.600 kg (10.141 lb)
* Berat terisi: 6.912 kg (15.238 lb)
* Berat maksimum tinggal landas: 8.100 kg (17.857 lb)
* Mesin: 2 buah Junkers Jumo 004B turbojet, 8,7 kN (1.956 lbf) masing-masingnya

Kemampuan :
* Kecepatan maksimum: Mach 0,92 = 977 km/jam (607 mph) di 12.000 m (39.370 ft)
* Radius tempur: 1.000 km (620 mil)
* Jarak angkut: 1.900 km (1.180 mil)
* Batas tertinggi terbang: 16.000 m (52.000 ft)
* Kecepatan tanjak: 22 m/detik (4.330 ft/menit)
* Berat sayap: 137,7 kg/m² (28.2 lb/ft²)
* Berat dorongan: 0,26

Persenjataan :
* Senjata: kanon 2 x 30 mm MK 108
* Roket: Roket R4M
* Bom: bom berbobot 2 x 500 kg (1.100 lb)

 sitaan sekutu  dari jerman






ilustrasi penuh horten x



hasil sitaan di bawa ke amerika untuk di teliti





potongan horten x 

 Satu-satunya pesawat Horten Ho 229 V3 yang masih ada dan tersimpan di Smithsonian Institution's Garber Restoration Facility dalam keadaan tidak terawat.





5.Panzerkampfwagen VIII  ,Tank terbesar jerman pertama dalam sejarah 

Panzerkampfwagen VIII Maus (Sd.Kfz 205) adalah prototipe tank berat yang belum selesai dibangun selama Perang Dunia II. Desain dasar dikenal sebagai VK70001/Porsche Tipe 2005 telah diusulkan oleh Ferdinand Porsche untuk Adolf Hitler pada bulan Juni 1942, yang kemudian disetujuinya. Desain telah selesai dibuat oleh Porsche dari bulan Maret sebelumnya sebagai pemenang kontrak kerja pembuatan tank berat tersebut. Pengerjaan lanjutan desain dilakukan dengan sungguh-sungguh dan prototipe pertama telah siap pada tahun 1943, dan pada awalnya menerima nama Mammut (Mammoth). kemudia berubah ke Mäuschen (Mousie) pada bulan Desember 1942 dan akhirnya Maus (Mouse) pada Februari 1943.

Pembangunan tank super berat dimulai pada awal 1941, ketika Krupp memulai studi superheavy tank milik Uni Soviet. Pada awal 1942, Krupp menghasilkan desain Tiger-Maus (VK7001) dan VII PzKpfw Löwe (VK7201), tapi pada tanggal 5/6 Maret 1942 pengerjaannya terhenti karena pembuatan tank baru yang lebih berat dan besar ukurannya. Löwe hanya mencapai tahap prototipe tapi membuka jalan bagi pembangunan pengganti mereka. 21/22nd Maret 1942, Porsche mendapatkan kontrak baru 100-ton Panzer - VK10001 / Porsche Tipe 205. April 14/15 telah ditetapkan bahwa baru tank baru berbobot 100-ton harus mampu membawa minimal 100 butir amunisi tank! VK10001 dikembangkan oleh Profesor Ferdinand Porsche dan Dr.Müller dari Krupp pada bulan Mei 1942 atas permintaan pribadi langsung dari Adolf Hitler. Dia menuntut diciptakannya sebuah super-tank 120-ton yang "tak terhancurkan" dengan senjata berat berkinerja tinggi "pistol" L/60 atau L/72.

Tugas memproduksi bungkus, kubah dan persenjataan diberikan kepada Krupp, sementara Alkett bertanggung jawab atas perakitan. Pertamanya Hitler menuntut spesifikasi persenjataan harus terdiri dari laras meriam 150mm L/40 dan 20mm MG151/20 senapan mesin berat, sementara penggunaan 128mm L/50 berada di bawah pertimbangan. Dinyatakan bahwa prototipe harus operasional sebelum musim semi 1943. Tanggal 23 Juni 1942, Porsche menyediakan desain mereka yaitu laras 150mm L/37 dan 105mm L/70 yang dipasang di kubah VK10001 untuk meningkatkan kemampuan senjatanya. Porsche berjanji bahwa prototipe pertama akan siap pada bulan Mei 1943. Pada bulan Desember 1942, senjata baru seperti senapan 150mm, 127mm naval gun, 128mm Flak dan versi terpanjang dianggap 128mm. Juga di bulan yang sama, ditekankan kembali bahwa kendaraan pertama harus siap di musim panas 1943, diikuti oleh produksi 5 biji per bulan. VK10001 nama resmi pertama dan Porsche Tipe 205 ( "Mammoth") yang digunakan pada bulan April 1942, diikuti oleh Mäuschen (tikus) pada bulan Desember 1942 dan Maus (Tikus) di bulan Februari 1943. Pada bulan Januari 1943, Hitler memutuskan bahwa Mäuschen harus dilengkapi dengan menara-mount dengan senjata 128mm dan 75mm, sementara menara-mount dengan 150mm KWK 44 L/38 atau 170mm KWK 44 senjata itu akan didesain untuk penggunaan di masa depan. Spesifikasi untuk ruang penyimpanan amunisi tidak pernah bertemu dan menurun oleh modifikasi lebih lanjut.

Dari desain muncul rakasa seberat 188 ton. Pada tanggal 1 Mei 1943, kayu mockup dari Maus telah disampaikan kepada Adolf Hitler, yang setuju produksi dan memerintahkan seri 150 untuk diproduksi. Pada 4 November 1943, pengembangan Maus harus berhenti dan hanya satu yang harus diselesaikan untuk evaluasi. Pada bulan Oktober 1943, pesanan sebenarnya yang dibuat Hitler untuk 150 pesanan dibatalkan

Tanggal 24 Desember 1943, prototipe pertama yang tanpa turet telah selesai dikerjakan oleh Alkett dan dimasukkan ke tes ekstensif. Selama tes, Maus hampir tidak dapat bergerak karena berat badan yang sangat besar dan daya / weight ratio. Prototipe pertama V1 (Maus I) ditenagai oleh mesin Daimler-Benz MB 509 (dikembangkan dari mesin pesawat DB 603), yang direncanakan tidak dapat memberikan kecepatan 20km / h tapi hanya 13km / jam dalam kondisi ideal. masalah juga muncul dengan sistem suspensi yang harus dimodifikasi dalam rangka mengambil berat kendaraan. Masalah lain yang muncul dari beratnya, adalah bahwa tak ada jembatan bisa dilewati dengan berat seperti itu. Untuk mengatasi masalah ini Maus harus diberikan "snorkel", pengaturan yang memungkinkan untuk menyelam ke kedalaman maksimal 8 meter. Pada bulan Desember 1943, V1 ini dilengkapi dengan (Belastungsgewicht) simulasi menara (mewakili berat menara) dan sedang diuji. Cat kamuflase diaplikasikan pada Maus dan ditandai dengan bintang merah dan palu arit untuk menyamar sebagai kendaraan Rusia yang tertangkap!

Pada bulan Maret tahun 1944, kedua prototipe V2 (Maus II) yang berbeda dalam banyak rincian dari V1 diproduksi. V2 tidak memiliki Mesin, yang dipasang pada pertengahan 1944. Pada 9 April 1944, Krupp menghasilkan menara, yang pada bulan Juni 1944, disampaikan dan kemudian dipasang di V2 dan diuji. Krupp memproduksi sebuah menara 128mm dipasang dengan KWK 44 L/55 gun dengan coaxial 75mm KWK 44 L/36.5 pistol dan 7.92mm MG34, menyediakan Maus dengan senjata api yang sangat besar. Senjata utama Maus bisa menembus depan, samping dan belakang pelindung besi (pada 30 derajat dari vertikal) dari Sherman, Cromwell, Churchill, T-34/85 dan JS-2 tank di kisaran 3500 + meter! Menara/kubah termasuk tempat untuk Rangefinder (oleh Zeiss), tapi tidak sepenuhnya selesai dan beberapa komponen yang hilang dikirim kemudian. Maus rencananya pula akan dilengkapi dengan menara kedua Krupp tetapi itu tidak pernah direalisasikan dan tetap dilengkapi dengan menara simulasi. Pada tanggal 25 Juli 1944, Krupp melaporkan bahwa dua kulit pelindung akan tersedia segera dan dua lagi di kemudian hari. Tanggal 27 Juli 1944, Krupp diperintahkan untuk sisa empat pelindung. Pada tanggal 19 Agustus 1944, Krupp menginformasikan Porsche bahwa mereka menghentikan pengerjaan lebih lanjut dari Maus. Pada bulan September tahun 1944, kedua prototipe memulai tes. Prototipe Itu diinstal dengan mesin diesel Daimler-Benz 517 MB yang membuat perbedaan kecil dibandingkan dengan mesin yang digunakan sebelumnya. sistem listrik kemudi canggih digunakan untuk mengemudikan kendaraan. running gear nya dirancang oleh Skoda, terdiri dari dua truk beroda dua belas yang didukung oleh rol dengan lebar track 1100mm. Kru tank harus dilengkapi dengan oksigen yang cukup dan disediakan oleh built-on Fans / ventilator ketika semua pintu tertutup.

Dalam mengangkut Maus, dibuat kendaraan transportasi khusus yang berjalan di rel kereta berporos 14 (Verladewagon) yang diproduksi oleh Graz-Simmering-Pauker di Wina. Dari pertengahan Januari sampai awal Oktober tahun 1944, ujicoba berlangsung di lapangan Kummersdorf (dekat Berlin) dan kemudian pada lapangan uji coba Porsche di Böblingen. Tes yang memakan waktu, tertunda oleh kegagalan mesin produksi dan penundaan yang disebabkan oleh serangan bom Sekutu di pabrik-pabrik Jerman. Selama tes, diketahui bahwa bila si raksasa ini tidak berfungsi maka setiap Maus harus ditarik oleh dua tank Maus lain! Juga dilaporkan bahwa Jerman bekerja di Maus auf Flakzwilling 8.8cm, yang akan membuat kubah Maus yang dimodifikasi dengan tambahan dua menara 88mm Flak 43 dan digunakan sebagai Flakpanzer berat. Beberapa sumber menyatakan bahwa menurut Porsche, Hitler akan menggunakan Maus-Mausnya untuk menyumbat lubang di pertahanan pantai Atlantik Front Barat, di mana disana mobilitas memang terbatas dan tidak akan terlalu banyak hambatan. Versi populer menyatakan bahwa prototipe V2 diledakkan oleh personil pasukan Jerman di Kummersdorf sebelum diterjunkan dalam pertempuran, sementara beberapa sumber menyatakan bahwa sebenarnya V2 menjalani pertempuran juga ketika bertugas mempertahankan fasilitasnya di Kummersdorf. Ketika perang berakhir, hampir semua kubah V1 dan lambung ketiga ditemukan di fasilitas Krupp di Essen. Secara keseluruhan, Maus desain yang menarik tapi mempunyai nilai tempur terbatas karena mobilitas miskin dan berat yang membuatnya tidak lebih dari benteng bergerak daripada super tank. Salah satu contoh lengkap (V2 menara V1 dipasang pada lambung), diujicobakan di Kubinka di 1951/52 dan dapat dilihat hari ini di Museum Pasukan Lapis Baja di Kubinka (dekat Moskow) di Rusia.

Data Panzerkampfwagen VIII Maus :

Panjang: 10.09 m
Lebar: 3.67 m
Tinggi: 3.63 m
Berat: 188 ton
Kecepatan: 13 km/jam di jalanan biasa
Jarak tempuh: 160 km on road, 62 km off road.
Persenjataan utama: 128 mm KwK44 L/5
Senjata tambahan: co-axial 75mm KwK 44 L/36.5
7.92mm MG34
Baja (V2) Pelapis bagian bawah depan (Plat Glacis setebal 200 mm (8 in), yang dapat berputar secara vertikal sebesar 35 derajat.

Pelindung samping: 180mm (7 in)
Pelindung belakang: 160mm (6.3 in)
Turet depan: 240mm (9.5 in)
Turet samping: 200mm (8 in)
Turet atap: 60mm (2.3 in)


Tekanan tanah 140 kPa (20 psi)
Produksi: 1 buah selesai dikerjakan (V2)

1 selesai tapi dengan turet mainan (V1)
Total 9 buah dikerjakan dengan level kelengkapan yang bervariasi (di Essen dan Kummersdorf)

Tenaga penggerak: 1080 hp MB509 gasoline (V1)
1200 hp MB517 Diesel (V2)
Awak: 6 orang

lihat ukuran nya 










6.Messerschmitt Me 262 'Schwalbe', Pesawat Jet Yang Terlambat Diproduksi!




Messerschmitt Me 262 tampak samping. Pesawat yang ini dikhususkan untuk bertempur di malam hari (night fighter). Perhatikan saja antena radar di hidung, dan juga tambahan kursi kedua di belakang pilot untuk operator radar





Messerschmitt Me 262 yang telah dirampas Sekutu tengah dipelajari interior dan bentuknya. Di kemudian hari, pesawat jet ini menjadi inspirasi dan cikal bakal dari SEMUA pesawat jet yang ada di dunia!









 Pesawat ini adalah pesawat pertama bermesin jet,sayang pembuatan nya hanya beberapa bulan menjelang jerman menyerah kalah.dengan kecepatan maximal lhampir 1 mach yang menjadikan nya psawat tercepat dikelas nya pada tahun1945.
Andaikata Hitler tidak bersikeras jet tempur Me 262 harus diubah menjadi pesawat pembom tempur, mungkin jalannya perang akan lain. Tapi suratan tangan sejarah bagi Me 262 ditakdirkan hanya hidup singkat mempertahankan Nazi Jerman pada hari-hari terakhir sebelum bertekuk lutut kepada Sekutu.

Messerschmitt Me 262 adalah mesin perang tercanggih pada eranya. Ia padat teknologi baru yang belum teruji tapi terdesak oleh perang, Jerman tidak punya pilihan kecuali langsung menerjunkan dalam kancah Perang Dunia Kedua. Teknologi baru tersebut itulah yang menjadi kendala mesin perang canggih ini, sehingga pesawat berbaling-baling mesin piston dengan mudah mengungguli pesawat jet yang semula ditakuti Sekutu.

Dalam waktu singkat Sekutu mengetahui bahwa "tumit Achilles" jet tempur Messerschmitt Me 262A adalah pada saat pesawat jet ini masih terbang dalam kecepatan rendah selepas take-off atau saat akan mendarat. Mengetahui kelemahan ini, Sekutu secara rutin mengirim patroli sekitar pangkalan-pangkalan udara dimana Me 262 ditempatkan untuk menyerangnya begitu jet tempur andalan Nazi ini airborne. Sebab, bila sudah mencapai kecepatan tinggi, pesawat tempur ini bukan tandingan pesawat Sekutu.

Kelemahan lainnya. Setiap operasi 10 jam, mesin Jumo 004-nya harus diganti. Dalam perkembangan selanjutnya, pabrik Junker berhasil meningkatkan umur mesin menjadi setiap 25 jam operasi. Titik-titik lemah itulah dijadikan kunci untuk menghajar jet tempur pertama dunia. Sekutu mengandalkan pesawat tempur baling-baling bermesin piston North American P-51D Mustang sebagai lawan tangguhnya. Di tangan penerbang Mustang, harapan Hitler meraih keunggulan di udara menjadi sirna. Sekalipun salah satu jenderalnya, Generalmajor Adolf Galland memimpin sendiri balasan terhadap serangan Sekutu setelah ace Jerman, Major Walter Nowotny yang memimpin satuan Me 262 Kommando Nowotny tewas dalam duel dogfight rendah dengan Mustang, jet tempurnya berhasil dirontokkan 8 November 1944.

Dalam buku terbitan Cassell Military Classics (1998) "Sky Battles,"Alfred Price menulis bahwa saat Me 262 Walter Nowotny ditembak jatuh, Generalmajor Adolf Galland secara kebetulan berada di Achmer pada hari itu dalam kunjungan inspeksi untuk mencari keterangan kenapa satuan Me 262 Kommando Nowotny dengan pesawat yang lebih unggul dari Sekutu, belum berhasil meraih harapan.

Menyaksikan ace Jerman (dengan pesawat lebih unggul) kalah dalam dogfight dengan Mustang, sudah cukup bagi Adolf Galland guna menarik kesimpulan bahwa Walter Nowotny diberi tugas diluar kemampuannya. Nowotny dibebani tugas impossible dia harus memperkenalkan pesawat tempur total baru untuk segera menjadi operasional tempur, sementara mayoritas dari para pilotnya tidak memperoleh latihan konversi yang layak.

Latihan yang diperoleh para penerbang sangat minim. Amat jarang satuan Kommando Nowotny dapat melakukan latihan terbang setengah lusin sorti per hari. Sebagai dampaknya, Sekutu yang memiliki keunggulan dalam jumlah pesawat di atas Jerman, mendikte kapan jet tempur Messerschmitt 262 harus berlaga di medan tempur.

Galland menginstruksikan satuan Me 262 untuk kembali ke Lechfeld untuk memperoleh tambahan latihan sekaligus dilaksanakan modifikasi kelemahan jet tempurnya. Dia menyadari suatu kesalahan besar untuk melibatkan Me 262 dalam kombat dalam jumlah kecil. Agar memperoleh kehebatan, jet tempur ini harus dihimpun jumlah yang lebih besar daripada Satuan Kommando Nowotny. Inilah awal terbentuknya satuan tempur Geschwader Me 262 atau lebih dikenal sebagai JG 7 namun butuh waktu cukup lama sebelum JG 7 operasional penuh melawan pesawat-pesawat Sekutu.

Lalu bagaimana dengan versi pembom tempurnya? Pada tahun 1944, versi yang diinginkan Adolf Hitler ini memperkuat dua satuan, Gruppen I dan II dari Kampfgeschwader 51. Secara individu pembom tempur Me 262 melaksanakan serangan terhadap lapangan udara dan posisi pasukan Sekutu di Perancis, Belanda dan Belgia. Tapi karena serangannya hanya melibatkan sejumlah kecil Me 262 dan jumlah tonase bom yang digotongnya terbatas, serangan pembom jet tempur Nazi tersebut kurang berarti.

Hitler meledak marah

Bersamaan dengan persiapan Adolf Galland tersebut, pada awal 1945, Me 262 baru mulai keluar dari pabrik dengan jumlah mencengangkan 36 pesawat per minggu dan sebegitu jauh sudah 600 pesawat diserahkan kepada Luftwaffe. Namun dalam buku catatan markas besar angkatan udara 10 Januari 1945 hanya sekitar 60 Me 262 (atau 10 persen dari yang diserahkan pabrik) tercatat dalam satuan operasional, tapi tidak satu pun dalam day fighter unit, 52 pesawat dioperasikan Kampfgeschwader 51 dalam peran sebagai pembom tempur. Empat pesawat beroperasi sebagai night fighter dan lima digunakan sebagai pesawat reconnaissance jarak pendek empat bulan setelah Hitler bersikeras peran Me 262 diubah sebagai pembom tempur.

Hitler meledak marah 23 Mei 1944, dalam rapat di markasnya di Berchtesgaden yang dihadiri oleh Reichmarschall Goring, Generalfeldmarschall Erhard Milch dan petinggi Luftwaffe lainnya membicarakan khusus perkembangan Messerschmitt Me 262. Sang Fuhrer menanyakan, "Saya kira 262 kini sudah dibuat sebagai pesawat high-speed bomber. Sudah beberapa jumlah pesawat 262 yang dibuat untuk dapat menggotong bom?"

Milch menjawab bahwa saat itu belum satu pun dimodifikasi sebagai pembom tempur pesawat secara eksklusif diproduksi sebagai pesawat tempur. Ruang pertemuan mendadak menjadi hening. Milch menggali "kuburannya sendiri" kala meneruskan keterangannya bahwa Me 262 tidak dapat menggotong bom kecuali diadakan modifikasi besar-besaran terhadap rancang bangunnya.

Mendengar keterangan itu. Hitler kehilangan kesabarannya dan memotong Generalfeldmarschall-nya : "Sudahlah! Saya hanya minta pesawat itu bisa menggotong satu bom 250 kilo (550 pon)!" ujarnya keras naik pitam. Namun tensinya menurun kala diberi jaminan bahwa segera akan dilakukan modifikasi agar Me 262 sanggup menggotong dua bom.

Bisa mengerti mengapa Sang Fuhrer sampai naik pitam. Serbuan pasukan Sekutu ke daratan Eropa bisa terjadi setiap saat. Sementara senjata yang diharapkan Hitler seolah-olah dicuri dari genggaman tangannya. Ancaman besar yang dihadapi Fuhrer sekitar musim semi 1944 adalah serbuan Sekutu ke daratan Eropa. Hitler berpendapat tidak ada sarana yang lebih cepat untuk menahan serbuan pasukan Sekutu kecuali pesawat jet, khususnya pembom tempur jet.

Dalam skenario Fuhrer, bila pasukan Sekutu dihajar terus menerus dengan serangan bom dan straffing udara, mereka akan tercerai berai dalam kelompok kecil kala divisi Panzer Jerman tiba di lokasi pertempuran. Jika rencana ini menjadi kenyataan, serbuan pasukan Sekutu bisa dipatahkan.

Mendapat masukan jumlah pesawat Sekutu yang bakal mengawal serbuan tersebut, Hitler tambah yakin bahwa hanya pesawat jet Me 262 yang secara cepat dapat tiba di lokasi pendaratan dan menyerang pasukan Sekutu dengan mematikan. Dalam tukar pikiran, Fuhrer mendapat masukan pula bahwa bila perlu Me 262 dapat menggotong dua bom 550 pon. Sejak itulah, Hitler yakin benar dengan diubah peran menjadi pembom tempur, Me 262 merupakan senjata ampuh dalam rencana operasi anti-serbuan Sekutu. Namun yang tidak dapat divisualisasikan Fuhrer kala itu adalah apakah Messerschmitt Me 262 tersebut benar-benar sehebat seperti yang dibayangkannya. Sebab bila itu terjadi, belum tentu 262 bisa melaksanakan perannya sebagai pembom tempur karena dia akan disibukkan oleh pesawat tempur pengawal pasukan tempur Sekutu. Kemungkinan besar sebelum sempat menjatuhkan dua bom yang digotongnya itu, Me 262 sendiri sudah dirontokkan terlebih dahulu oleh pesawat Sekutu.

Generalfeldmarschall Erhard Milch dari Luftwaffe yang dipercayakan untuk produksi Me 262 juga sependapat untuk membuat versi pembom tempur. Namun berbeda dengan Sang Fuhrer-nya, Milch lebih mementingkan produksi 262 secepatnya keluar dari pabrik beroperasi dalam satuan-satuan tempur guna menghadapi serangan udara bertubi-tubi Sekutu yang dari hari ke hari semakin gencar. Versi pembom tempurnya diberi prioritas kedua.

Milch ketemu batunya pada hari itu. Hitler langsung memecatnya dan menunjuk Goring secara pribadi bertanggungjawab langsung terhadap produksi Me 262 versi pembom tempur secepat mungkin keluar dari pabrik Messerschmitt. Tanpa disadari Fuhrer, meski modifikasi bisa dilakukan segera, namun kelemahan-kelemahan pada mesin Jumo 004, sebenarnya tidak memungkinkan dalam versi apapun 262 menghadapi pesawat-pesawat (Mustang) Sekutu meski bermesin piston tapi unggul dalam segi-segi tertentu daripada jet tempur Jerman.

Tidak ada kelanjutan dari rapat tersebut setelah dua minggu lewat ketika pada 6 Juni pasukan Sekutu mendarat di Normandy dan berhasil menguasai pantai Perancis tersebut. Kesempatan bagi pembom tempur jet Me 262 memberi pukulan dashyat terhadap serbuan pasukan Sekutu lewat begitu saja.

Menjelang akhir bulan Juni satuan unit pertama Me 262 versi pembom tempur mulai terbentuk dalam Staffel Ke-3 dari Kampfgeschwader 51. Satuan pembom tempur Me 262 pada 20 Juli secara resmi operasional dan dipindahkan ke Chateaudun dekat Paris, diperkuat dengan sembilan pesawat yang masing-masing membawa dua bom 550 pon. Dalam upaya mengurangi tingkat kerugian, serta untuk mengurangi seminimal mungkin pesawat baru tersebut jatuh ke tangan musuh, para pilotnya diinstruksikan tidak menurunkan ketinggian terbang 4.000 meter (13.000 kaki) di atas daerah musuh. Bom dilepas sewaktu pesawat menukik tajam pada ketinggian tersebut, namun bila serangan pemboman kurang tepat berarti hasilnya akan nihil terhadap sasaran kecil seperti jembatan atau kendaraan.




Messerschmitt Me 163 "Komet", Pesawat Bermesin Roket Milik Jerman!



 Coba bayangkan sebuah pesawat pencegat yang mampu menembus ketinggian 30.000 kaki (lebih dari 9.000 m) hanya dalam tempo tiga menit saja! Pastilah semua setuju, ini merupakan pesawat tercepat. Sebuah kemampuan yang luar biasa, setidaknya untuk ukuran jaman PD II.

Bukan hanya sekadar khayalan, nyatanya Luftwaffe pernah mengoperasikan penempur seperti yang disebutkan di atas tadi. Messerschmitt Me 163 Komet, itulah pesawat tempur kilat itu. Fungsi utama yang dilakoni adalah sebagai elemen pendobrak bomber Sekutu yang terbang tinggi. Oleh karenanya para ahli perang udara Nazi berkesimpulan: selain daya hantam senjata, kecepatan juga jadi faktor penentu.

Bila dibedah, kunci keajaiban Komet terletak pada sumber tenaga yang dipakai. Bukannya memakai mesin jet apalagi baling-baling, Komet melesat memburu lawan dengan modal sebuah motor roket Walter HWK 509A-1/2. Tenaga yang dihasilkan mampu melontarkan tubuh pesawat hingga kecepatan maksimal 960 km/jam. Ada satu terobosan pada mesin roket yang diusungnya. Saat aktif, sumber tenaga ini tak meninggalkan jejak asap putih. Alhasil ditanggung lawan tak bakal sadar ada pesawat yang mendekat.





Prototipe Messerschmitt Me 163 A V4 (Kennung KE+SW) di tahun 1941








Foto prototipe Messerschmitt Me 163B V-2 dilihat dari atas. Terlihat bahwa bentangan sayapnya jauh lebih panjang dibandingkan dengan panjang pesawat dari depan ke belakang!

Prototipe Messerschmitt Me 163 A V4 (Kennung KE+SW) di tahun 1941